Senin, 08 Juli 2013

kepurbakalaan budaya Hindu dan Islam



LAPORAN KUNJUNGAN MUSEUM RANGGAWARSITA
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, MSI





Disusun Oleh :
Muflihah                     (113911005)
Puji Ariyanti                (113911009)
Machya Afiyati U.      (113911025)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2013

KEPURBAKALAAN PENINGGALAN HINDU DAN ISLAM
I.                   PENDAHULUAN
Kepercayaan masyarakat Jawa yang bertumpu pada penyembahan terhadap ruh-ruh para leluhur (animisme) dan kekuatan magis benda-benda (dinamisme) telah menjadi bagian dari hidup mereka sebelum adanya agama-agma asing yang dating (Hindu, Budha, Islam dan Nasrani). Kemudian sekitar tahun 3000 SM, masuklah orang-orang Melayu purba dari pegunungan Cina selatan melalui Vietnam. Pada abad berikutnya sekitar tahun 2000 SM dating lagi orang-orang Melayu yang sudah memiliki peradaban agak tinggi dan menganut kepercayaan atas kuasa ruh-ruh dalam kehidupan manusia. Penduduk asli pulau Jawa dan pendatang Melayu kuno inilah yang diyakini sebagai asal usul atau nenek moyang orang Jawa.
Pada jaman pra-Hindu, kontak-kontak sosial masyarakat Indonesia dengan dunia luar sudah terjadi. Kontak-kontak perdagangan dengan India, Arab, Cina, dan Persia bahkan terus berkembang. Hal itu dikarenakan pulau-pulau Indonesia bagian barat selain terletak di jalur perdagangan dari Asia Selatan ke Asia Timur juga merupakan daerah penghasil rempah-rempah, emas, kayu manis, dan produk-produk lain yang diminati di dunia perdagangan . kondisi yang demikian strategis itu menjadikan pangeran-pangeran lokal berkenalan dengan pandangan-pandangan politik dan religius luar, terutama India.
Inti pandangan politik dan religius India menyimpulkan suatu gagasan organisasi kenegaraan yang tersusun secara hierarkis dari pusat ke bagian-bagian yang terkecil. Organisasi itu tersusun hirarki dibawah wewenang dan perintah seorang raja-dewa. Gagasan itu oleh para penguasa-penguasa dikepulauan Nusantara ini dilihat sebagai wahana ideoologis yang tepat untuk melegitimasi dan memperluas wewenang mereka. Oleh karena itu, mereka kemudian memperkerjakan pendeta-pendeta Brahmani supaya dapat menarik garis nenek moyang mereka sampaikepada dewa-dewa Hindu atau mereka menyatakan diri sebagai penjelmaan Syiwa atau Wisnu. Raja-raja Jawa kemudian dikeramatkan sebagai pusat penjelmaan dewa, yaitu sebagai titisan dewa atau pembawa esensi kedewataan di dunia.
II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa saja yang dilihat di Museum ?
B.     Bagaimana sejarah peninggalan Museum ?
C.     Dimana letak asal peninggalan ?
D.    Apa manfaat dari peninggalan benda-benda tersebut ?
E.     Bagaimana pembuktian sejarah Agamanya ?
III.             HASIL PENGAMATAN
A.    Benda-benda yang ada  di dalam Museum
1.     Candi Gedung Songo
2.     Candi Prambanan
3.     Candi Dieng
  

4.     Masjid Menara Kudus
5.     Masjid Demak
B.     Sejarah peninggalan museum
1.      Candi Gedung Songo
Pada mulanya, candi-candi di kompleks ini ditemukan 7 candi sekitar tahun 1740 oleh Sir Thomas Stamford Raffles. Yang kemudian disebut gedung pitu, yang artinya gedung tujuh. Beberapa tahun kemudian dilakukan penelitian kembali oleh para seorang arkeolog. Ditemukan 2 candi lagi, yang kemudian terjadi perubahan nama, yaitu candi gedung sanga, karena jumlah candinya ada Sembilan.
2.      Candi Prambanan
Prambanan adalah candi terbesar dan termegah yang dibangun di Jawa kuno. Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari "Para Brahman", yang mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana.
3.      Candi Dieng
Kemampuan ilmu arsitektur dapat menghasilkan bangunan-bangunan yang mengandung nilai seni tinggi dan tidak kalah bahkan lebih kokoh dari bangunan-bangunan yang dibuat di zaman sekarang ini. Di wilayah dataran tinggi Dieng terdapat banyak candi, tercatat 19 candi, namun hanya tinggal delapan candi yang masih utuh berdiri. Umumnya penemaan candi berdasarkan nama tokoh pewayangan. Berdasarkan hasil penelitian Candi dieng dibangun sekitar abad delapan hingga Sembilan. Bahkan ada kemungkinan beberapa candi di Dieng dibuat jauh sebelum abad ke delapan.
4.      Masjid Menara Kudus
Masjid Menara Kudus sangat berkaitan dengan peran Sunan Kudus. Sebagaimana para walisongo lainnya, Sunan Kudus juga memiliki cara dalam berdakwah. Beliau dapat beradaptasi di tengah masyarakat yang telah memiliki budaya Hindu dan Budha. Masjid ini didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal ini dapat diketahui dari inskripsi (prasasti) pada batu yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm yang terletak pada mihrab masjid yang ditulis dalam bahasa Arab.
5.      Masjid Demak
Masjid ini merupakan masjid tertua di Jawa, yang dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sekitar abad ke-15 Masehi, raja pertama dari Kesultaan Demak, Raden Patah, mendirikan masjid ini. Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.
C.     Letak asal peninggalan
1.     Candi Gedung Songo terletak di puncak gunung Ungaran, kecamatan Sumowono, Semarang, Jawa Tengah. Dalam kawasan candi gedung songo terdapat 9 kompleks candi yang letaknya tersebar di area perbukitan.
2.     Candi Prambanan
Candi ini terletak di desa Prambanan, pulau Jawa, kurang lebih 20 kilometer timur Yogyakarta, 40 kilometer barat Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.


3.     Candi Dieng
Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kabupaten Banjarnegara-Wonosobo Jawa tengah. Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan sampai awal abad ke-9.  Kompleks candi ini terdiri kelompok Arjuna, Gatutkaca, Dwarawati, dan kompleks candi Bima.
Di samping berupa fitur dan bangunan, di kawasan Dieng juga ditemukan berbagai benda kemindah (movable), seperti prasasti dan arca. Bahkan, penelitian baru juga mendapatkan berbagai pecahan keramik yang diduga dahulu digunakan oleh para penghuni.
Arca dari kawasan Dieng cukup unik karena sebagian di antaranya tidak ditemukan di tempat lain. Arca tersebut misalnya adalah Nandisawahanamurti, yaitu arca Dewa Siwa yang duduk di atas bahu nandi yang berbadan manusia.
4.     Masjid Menara Kudus, Masjid ini terletak di desa Kauman, kecamatan Kota kabupaten Kudus Jawa Tengah.
5.      Masjid Demak, Masjid ini terletak di desa Kauman, kabupaten Demak Jawa Tengah.

D.    Manfaat peninggalan
Dari peninggalan benda-benda yang bercorakkan agama Hindu, kami lebih mengetahui dan lebih mengerti tentang perkembangan mengenai agama Hindu khususnya, dan agama-agama lain pada umumnya.
Dengan adanya peninggalan benda-benda tersebut juga dapat dijadikan objek pariwisata, tidak hanya sebagai pariwisata namun, juga dapat menambah pengetahuan serta pengalaman. Benda-benda peninggalan tersebut juga dapat digunakan sebagai bukti bahwa Hindu pernah berkembang pesat di Indonesia.
Masjid Masjid Menara Kudus merupakan akulturasi budaya antara Jawa, Islam dan Hindu. Sehingga pengunjung dapat melihat peninggalan perpaduan antara budaya Islam dan Hindu. Selain itu masjid ini biasanya menjadi pusat keramaian pada festival dhandhangan yang diadakan warga Kudus untuk menyambut bulan Ramadan.
Masjid Demak merupakan masjid tertua di Jawa dan sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Selain itu para pengunjung juga bisa berziarah ke makam sunan kalijaga yang lokasinya tidak terlalu jauh dari masjid Demak.
E.     Pembuktian sejarah agama Jawa
1.      Kebudayaan Jawa Masa Hindu
Dari semua pengamatan kami, dapat dibuktikan bahwa benda-benda tersebut merupakan corak agama Hindu. Karena peninggalan agama Hindu memiliki bentuk ratna pada puncaknya (berundak dan lancip), adapun relief yang terukir di dinding-dinding candi diambil dari kitab Hindu misalnya kisah Ramayana dan di dalam candi terdapat patung dewa, seperti Siwa, Brahma, Wisnu dan Ganesha.
Diperkirakan pada akhir abad 8 Masehi, atau awal abad 9 Masehi. Penguasa Jawa Tengah yang menamakan diri raja Mataram menganut agama Syiwa. Peninggalan terbesar atas kepenganutan agama mereka adalah kompleks candi Lorojonggrang di daerah Prambanan, sebelah timur Yogyakarta. Bangunan candi Lorojonggrang terdiri dari 3 bangunan candi utama yang diperuntukan bagi dewa Brahma, Syiwa, dan Wisnu. Ketiga candi itu berhadapan dengan 3 candi yang lebih keccil. Keseluruhan candi dikelilingi oleh234 candi kecil. Ukiran-ukiran candi Syiwa diambil dari kisah Ramayana, sedangkan candi Lorojonggrang dimaksudkan sebagai tempat pemakaman bagi raja-raja Mataram. Selain itu, barangkali kompleks candi-candi itu juga untuk memenuhi fungsi sebagai candi kerajaan. Dengan demikian, kedua fungsi itu, sebagai pemakaman dan candi kerajaan, menandakan kekhasan Hinduisme dan Budhisme yang hidup dan berkembang dalam kebudayaan Jawa saat itu.
Kemegahan dan keperkasaan Jawa Tengah sebagai pusat kekuasaan kerajaan Mataram Kuno pada abad ke 10 M bergeser ke Jawa Timur, ke lembah sungai Berantas. Kota-kota pelabuhan seperti Tuban dan Gresik menjadi tempat yang ramai karena dipadati para pedagang yang datang dari berbagai daerah.
Pada akhir jaman Hindu-Budha, semangat  menjawakan itu semakin berjaya. Setelah unsur-unsur berharga dari Hinduisme dan Budhisme ditampung, unsur-unsur itu dijadikan wahana bagi paham-paham Jawa asli seperti penghormatan kepada nenek moyang, pandangan-pandangan tentang kematian dan penebusan atas kesalahan atau dosa, kepercayaan kepada kekuasaan kosmis, dan mitos-mitos dari para pendahulunya. Dengan ungkapan yang lain, agama dan kebudayaan impor diresapi oleh kebudayaan Jawa sampai menjadi ungkapan dan identitas Jawa sendiri.
Tradisi budaya yang begitu berterima terhadap hal-hal baru pada masyarakat Jawa membawa dampak pada sikap yang tidak serta merta memperlihakan perlawanan ketika perbuatan baru muncul. Setidaknya inilah yang terjadi ketika Islam mulai merambah dunia perpolitikan Jawa saat itu. Dua tahun setelah Hayam Wuruk mangkat, pada tahun 1401 Majapahit mulai nampak runtuh karena terpecah dalam suatu perang saudara, yaitu perebutan kekuasaan antara Wikrama-Wardana dengan Bhre Irabumi. Perpecahan berlangsung selama lebih dari 10 tahun. Setelah Bhre Wirabumi meninggal,  perpecahan di kalangan istana terjadi lagi dan berlarut-larut, hingga akhirnya Majapahit diserang Girindawhardana dari Kediri pada tahun 1468 M.
Setelah itu, yang berhubungan dengan kerajaan Majapahit tidak ada yang mengetahui secara pasti, sampai pada timbulnya serangan dari kerajaan Demak yang menganut agama Islam pada tahun 1475 M. Di awal abad ke-16 M, jejak kerajaan Majapahit tidak dpaat lagi ditemukan. Alam Jawa kemudian berganti suasana dengan berdirinya kerajaan Islam pertama, Demak pada tahun 1518 M. Raja demak pertama Raden Patah, memiliki pusaka kerajaan Majapahit karena ia memang masih memiliki hubungan darah dengan raja Majapahit, karena ia putra Brawijaya V atas pernikahannya dengan putri dari Campa.
2.      Kerajaan Islam Demak
Perkembangan Islam di Jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi kerajaan majapahit. Hal itu memberi peluang kepada penguasa-penguasa Islam di pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuatan yang independen. Di bawah pimpinan sunan Ampel Denta, para ulama sebagai pemimpin spiritual dan sosial yang dikenal dalam sejarah sebagai walisongo (sembilan wali) bersepakat mengangkat Raden Patah menjadi raja pertama kerajaan Demak dengan gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama. Raden Patah dalam menjalankan pemerintahannya, terutama dalam persoalan-persoalan agama, dibantu oleh para ulama yang mengangkatnya itu. Sebelumnya, Demak yang masih bernama Bintoro merupakan daerah Majapahit yang diberikan Raja Majapahit (Brawijaya V) kepada Raden Patah. Daerah ini lambat laun menjadi pusat perkembangan agama Islam yang diselenggarakan oleh para Wali.
Pemerintahan Raden Patah berlangsung kira-kira di akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-16. Dikatakan, ia adalah seorang anak raja Majapahit dari seorang ibu muslim keturunan Campa. Ia digantikan oleh anaknya, Sebrang Lor yang dikenal juga dengan nama Pati Unus. Menurut Tome Pires, Pati Unus baru berumur 17 tahun ketika menggantikan ayahnya sekitar tahun 1507. Menurut Tome Pires juga, tidak lama setelah naik tahta, Pati Unus merencanakan suatu serangan terhadap Malaka. Semangant perangnya semakin memuncak ketika tahu Malaka ditakluknyaoleh Portugis pada tahun 1511. Akan tetapi, sekitar pergantian tahun 1512-1513, tentaranya mengalami kekalahan besar.
Pati Unus kemudian digantikan oleh Trenggono yang dilantik sebagai sultan oleh Sunan Gunungjati dengan gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Ia memerintah pada tahun 1524-1546. Pada masa Sultan Demak yang ketiga inilah Islam berkembang luas di seluruh tanah Jawa, bahkan sampai ke Kalimantan Selatan. Penaklukan Sunda Kelapa berakhir pada tahun 1527 yang dilakukan oleh pasukan gabungan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fadhilah Khan. Majapahit dan Tuban jatuh ke bawah kekuasaan kerajaan Demak diperkirakan pada tahun 1527 itu juga. Selanjutnya pada tahun 1529, Demak berhasil menundukkan Madiun, dan berturut-turut Blora (1530), Surabaya (1531), dan Pasuruan (1535). Antara tahun 1541-1542 Demak berhasil menundukkan Lamongan, Blitar, Wirasaba, dan Kediri. Tahun 1544, Palembang dan Banjarmasin mengakui kekuasaan Demak. Sementara daerah Jawa Tengah bagian selatan sekitar Gunung Merapi, Pengging, dan Pajang berhasil dikuasai berkat jalinan penguasa Demak dengan pemuka Islam, Sunan Tembayat. Pada tahun 1546, dalam penyerbuan ke Blambangan, Sultan Trenggono terbunuh. Ia kemudian digantikan oleh adiknya, Prawoto. Masa pemerintahan Prawoto tidak berlangsung lama karena terjadi pemberontakan oleh adipati-adipati sekitar kerajaan Demak. Sunan Prawoto sendiri kemudian dibunuh oleh Aria Penangsang dari Jipang pada tahun 1549. Dengan demikian kerajaan Demak berakhir, dan dilanjutkan oleh kerajaan Pajang di bawah kekuasaan Jaka Tingkir yang berhasil membunuh Aria Penangsang.
Islam yang dibawa oleh ulama Sufi, dengan keberhasilan mendirikan kerajaan Jawa Islam Demak, berarti telah memegang kunci kekuasaan. Penyebaran Islam melalui peenguasa setempat ( kerajaan) membuat agama Islamsemakin cepat berkembang. Demak sebagai kerajaan jawa Islam yang mewarisi kebesaran kerajaan Hindu kejawen Majapahit memilik keagungan dan karisma yang kuat. Tradisi budaya kerajaan kejawen pun tidak ditinggalkan oleh kerajaan islam demak ini, ajaran mistiknya terus berjalan dan justru berkembang dengan ajaran-ajaran Islam, tasawuf. Ajaran mistik disampaikan lewat naskah-naskah yang diubah ke dalam bahasa Jawa, kebanyakan berbentuk sekar (puisi), macapat, isinya banyak mengungkapkan ajaran martabat tujuh. Ajaran martabat tujuh adalah suatu ajaran tasawuf yang ada dasarnya pengembangan dari Ibnu Arabi tentang paham pantheistis. Istilah-istiilah dalam ajaran tasawuf seperti itihad, hulul, fana, baqa, dan masih banyak lagi istilah tasawuf yang telah dijawakan, istilah Jawa yang muncul manunggal, nyuwiji,, pamor dll. Ungkapan-ungkapan tentang pengalaman mistik yang sering digunakan seperti: manunggaling kawulo-gusti, curiga manjing ing warangka, warangka manjing curiga, jumbuhing kawulo-gusti, pamoring kawulo-gusti. Ajaran miastik Jawa yang semula mengenal dewa-dewa, pemujaan dan penyembahan pada ruh-ruh, kemudian diislamkan, diperkenalkan bahwa Tuhan itu adalah Allah SWT. Upaya para wali untuk mengislamkan tradisi budaya Jawa dengan melakukan pembauran antara tradisi kejawen dengan unsur-unsur islam, ditunjang dengan kekuasaan kerajaan, atau istana yang menjadi sentral dakwah. Kerajaan Jawa Islam Demak inilah yang menjadi titik mula persentuhan tradisi budaya mstik Jawa dengan unsur-unsur mistik Islam.
F.      ANALISIS BUDAYA JAWA
Jawa pada masa pra Hindu-Budha sudah memiliki budaya yang berasal dari interaksi mereka terhadap lingkungan alam. Muncullah kepercayaan animisme dan dinamisme. Kepercayaan ini semakin berkembang seiring masuknya agama Hindu-Budha. Dibuktikan adanya ritual sesajen untuk menyembah roh-roh nenek moyang. Selain itu, ada juga benda yang dipercayai memiliki kekuatan, seperti batu akik dan keris.
Budaya yang sudah ada saat itu tidak sepenuhnya hilang setelah kedatangan agama Islam di Jawa. Islam dating di Jawa menggunakan media dakwah yang sesuai dengan situasi dan kondisi kebudayan Jawa saat itu. Seperti metode dakwah yang digunakan oleh para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam melalui kesenian wayang, Sunan Kalijaga. Dalam hal ini muncul perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Jawa dibawah kepercayaan Hindu.
Sampai saat ini, hasil budaya pada masa Hindu masih terlihat dengan adanya candi-candi yang tersebar di Jawa, seperti candi Gedungsongo, candi Prambanan, candi Dieng, dan lainnya. Tersebar pula bukti-bukti peninggalan adanya perpaduan antara budaya Islam dengan budaya Hindu, seperti yang tampak dari Masjid Menara Kudus yang memiliki relief mirip dengan candi Hindu.
G.    KESIMPULAN
Peninggalan museum yang dilihat meliputi gambar dan miniatur Candi Gedung Songo, Candi Prambanan, Candi Dieng, Masjid Menara Kudus, dan Masjid Demak.
Candi Gedung Songo terletak di puncak gunung Ungaran, kecamatan Sumowono, Semarang, Jawa Tengah. Candi Prambanan terletak di desa Prambanan, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Dieng merupakan kumpulan candi yang terletak di kabupaten Banjarnegara-Wonosobo Jawa tengah. Masjid Menara Kudus terletak di desa Kauman, kecamatan Kota kabupaten Kudus Jawa Tengah. Masjid Demak terletak di desa Kauman, kabupaten Demak Jawa Tengah. Persamaan dari peninggalan-peninggalan yang ada yaitu pada segi manfaat, yang masih dijadikan sebagai tempat wisata sekaligus untuk mengetahui bukti fisik dari peninggalannya.

DAFTAR PUSTAKA
Khalil, Ahmad, Islam Jawa Sufisme dalam Etika dan Tradisi Jawa, Malang: UIN-Malang Press, 2008.
Khalim, Samidi, Islam dan Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL, 2008.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar